"Rapunzel" Bagian 2 : Anak Yang Dibesarkan Dalam Sangkar Emas
Cerita ini dikembangkan berdasar cerita asli dari Grimm bersaudara.
Penyihir itu membawa bayi kecil itu pergi tanpa menoleh kembali. Tangisan sang ibu tertinggal di dalam rumah kayu yang sunyi, sementara langkah penyihir menghilang di antara pepohonan. Sejak hari itu, tak seorang pun di desa melihat bayi itu lagi. Orang-orang hanya tahu bahwa anak pasangan miskin tersebut telah lenyap, seolah ditelan hutan.
Penyihir membesarkan bayi itu jauh dari mata manusia. Ia membawanya ke sebuah tempat terpencil, di mana rumah-rumah jarang terlihat dan jalan setapak pun hampir tak ada. Di sanalah bayi itu tumbuh, diasuh oleh satu-satunya sosok yang ia kenal sebagai pelindung dan penguasa hidupnya.
Sejak kecil, Rapunzel hidup berkecukupan. Ia tidak pernah kelaparan. Ia tidak pernah kekurangan pakaian. Penyihir memastikan bahwa semua kebutuhannya terpenuhi. Namun kasih sayang yang diberikan bukanlah kasih yang bebas. Ia adalah kasih yang mengikat, mengurung, dan mengawasi.
Setiap hari, penyihir mengajarkan Rapunzel untuk takut pada dunia luar.
“Di luar sana berbahaya,” katanya.
“Manusia akan menyakitimu.”
“Hanya aku yang tahu apa yang terbaik untukmu.”
Rapunzel tumbuh dengan mempercayai kata-kata itu, karena ia tidak mengenal dunia selain yang diperlihatkan kepadanya. Ia menganggap penyihir itu sebagai satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Tahun demi tahun berlalu. Rapunzel tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, dengan mata jernih dan rambut keemasan yang semakin panjang setiap harinya. Rambut itu tumbuh dengan cara yang aneh—lebih cepat, lebih tebal, dan lebih berkilau daripada rambut siapa pun yang pernah dilihat penyihir.
Penyihir menyisir rambut itu setiap pagi dengan penuh perhatian, seolah rambut tersebut adalah harta yang tak ternilai.
“Rambutmu adalah anugerah,” katanya. “Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya.”
Rapunzel mengangguk, meski ia tak sepenuhnya mengerti.
Saat Rapunzel mulai beranjak dewasa, perubahan mulai terjadi. Ia menjadi lebih banyak bertanya. Ia mulai berdiri di dekat jendela dan menatap ke kejauhan. Ia mendengar suara burung, angin, dan langkah-langkah yang jauh di luar tempat tinggal mereka.
“Siapa yang tinggal di luar sana?” tanya Rapunzel suatu hari.
Penyihir langsung menutup jendela.
“Tak ada siapa pun yang perlu kau kenal,” jawabnya singkat.
Tak lama setelah itu, penyihir mengambil keputusan besar.
Ia membawa Rapunzel ke tengah hutan yang paling dalam, ke tempat yang bahkan para pemburu enggan datangi. Di sana berdiri sebuah menara tinggi menjulang, sunyi, dan tampak terpisah dari dunia. Menara itu tidak memiliki pintu. Tidak memiliki tangga. Hanya ada satu jendela kecil di puncaknya.
Rapunzel terdiam saat melihatnya.
“Di sinilah kau akan tinggal,” kata penyihir.
Rapunzel merasa takut, tetapi juga terbiasa patuh. Penyihir mengangkat Rapunzel ke dalam menara untuk pertama kalinya dengan cara yang aneh. Ia menyuruh Rapunzel duduk di lantai dekat jendela, lalu berkata:
“Rapunzel, Rapunzel, turunkan rambutmu.”
Rapunzel mengikuti perintah itu. Rambutnya yang panjang dan kuat diturunkan dari jendela, dan penyihir memanjatnya dengan cekatan. Sejak hari itu, itulah satu-satunya cara masuk dan keluar menara.
Rapunzel hidup sendirian di sana. Hari-harinya dipenuhi kesunyian. Ia membersihkan ruangan kecil itu, merawat dirinya sendiri, dan menghabiskan waktu dengan bernyanyi. Suaranya merdu dan jernih, menggema di antara pepohonan dan menembus keheningan hutan.
Kadang-kadang, penyihir datang membawa makanan dan keperluan lainnya. Ia selalu datang dan pergi dengan cara yang sama, tanpa pernah mengizinkan Rapunzel turun atau melihat dunia luar lebih dekat.
“Ini demi kebaikanmu,” katanya setiap kali Rapunzel bertanya.
Namun meski tubuh Rapunzel aman, hatinya perlahan mulai merasa terkekang. Ia tidak tahu apa itu desa. Ia tidak tahu apa itu pasar, atau tawa anak-anak lain. Dunia baginya hanyalah menara, hutan, dan sosok penyihir yang menguasai hidupnya. Dan di dalam kesunyian itulah, tanpa disadari siapa pun, takdir mulai bergerak.
Suara Rapunzel yang merdu suatu hari akan didengar oleh seseorang yang tak pernah dimaksudkan untuk mendengarnya.


Komentar
Posting Komentar