"Rapunzel" Bagian 4 : Pengkhianatan Dan Hukuman


Cerita ini adalah pengembangan dari cerita asli Grimm bersaudara.


Wajah penyihir itu tidak berubah oleh amarah yang meledak-ledak. Ia justru menjadi tenang mendengar situasi tersebut. Tatapannya tajam dan dingin, seperti seseorang yang baru saja memastikan kebenaran yang paling ia benci.

Rapunzel tidak langsung menyadari kesalahannya. Ia hanya melihat tangan penyihir yang berhenti menyisir rambutnya, dan ruangan menara yang tiba-tiba terasa lebih sempit.

“Apa yang kau katakan barusan?” tanya penyihir itu perlahan.

Rapunzel menoleh, bingung. Ia mengulangi kalimatnya, masih dengan nada polos, tanpa memahami akibatnya. Kata “pangeran” yang keluar dari bibirnya jatuh seperti batu ke dasar sumur yang dalam.

Untuk pertama kalinya sejak Rapunzel mengenalnya, penyihir itu berteriak.

“Kau mengkhianatiku!”
“Kau membuka pintu dunia yang ingin aku tutup selamanya!”

Rapunzel gemetar. Ia berlutut, menangis, mencoba menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud berbuat salah. Namun penjelasan itu tidak lagi berarti apa-apa. Penyihir mengambil gunting besar.Tanpa peringatan, rambut Rapunzel dipotong

Helai demi helai rambut emas yang selama ini menjadi jalan masuk menara jatuh ke lantai batu. Rambut itu, yang selama bertahun-tahun dirawat dengan penuh perhatian, kini diperlakukan seperti benda tak bernilai.

Rapunzel menjerit. Bukan karena rasa sakit di kulit kepalanya, tetapi karena rasa kehilangan yang begitu besar. Rambut itu adalah bagian dari dirinya dan kini telah lenyap. Malam itu juga, penyihir membawa Rapunzel pergi.



Ia tidak dibawa ke desa. Tidak ke kota. Ia dibuang ke padang pasir yang sunyi, tempat angin panas bertiup tanpa henti dan kehidupan terasa jauh dari harapan. Di sanalah Rapunzel harus bertahan hidup dengan anak-anak yang dikandungnya, karena dalam versi asli Grimm, Rapunzel telah mengandung tanpa pernah memahami sepenuhnya apa arti cinta dan akibatnya.

Sementara itu, penyihir kembali ke menara. Ia menunggu.

Ketika malam tiba dan pangeran datang seperti biasa, ia memanggil,
“Rapunzel, Rapunzel, turunkan rambutmu.”

Namun yang turun bukan rambut emas Rapunzel. Pangeran memanjat dan mendapati penyihir menunggunya di jendela.

“Rapunzel tidak ada di sini,” kata penyihir itu dingin.
“Kau tidak akan pernah melihatnya lagi.”

Pangeran terkejut, kehilangan keseimbangan, dan jatuh dari menara. Ia tidak mati, tetapi duri-duri tajam di bawah menara menusuk matanya. Ia bangkit dalam keadaan buta.

Dalam kegelapan total, pangeran itu mengembara. Ia berjalan tanpa tujuan, tanpa harapan, hanya dipandu oleh rasa bersalah dan kehilangan. Hari demi hari, tahun demi tahun, ia hidup dalam penderitaan, memakan apa pun yang bisa ia temukan, tidur di tanah, dan menangis setiap kali mengingat suara Rapunzel.

Sementara itu, Rapunzel bertahan hidup di pengasingan. Ia melahirkan dua anak kembar. Tidak ada istana. Tidak ada perayaan. Hanya pasir, angin, dan kesunyian. Namun penderitaan membuatnya kuat. Gadis polos yang dulu tinggal di menara kini menjadi perempuan yang bertahan demi anak-anaknya.

Takdir, yang pernah memisahkan mereka dengan kejam, perlahan mulai bergerak kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANJING YANG TAMAK

Snow White : Kisah Asli Dan Akhir Bahagia (Versi Panjang) Part 1

Snow White : Warisan Dan Keturunan Snow White (Side Story) Part 5 End