"Rapunzel" Bagian 1 : Keinginan Yang Dibayar Mahal
Cerita ini diambil dan dikembangkan dari cerita asli Grimm bersaudara.
Pada suatu masa yang telah lama berlalu, ketika dunia masih dipenuhi hutan lebat dan desa-desa kecil yang terpencil, hiduplah sepasang suami istri di sebuah rumah sederhana. Rumah itu berdiri di pinggiran kota, jauh dari pasar, jauh dari keramaian, dan jauh dari kemewahan. Dindingnya terbuat dari kayu tua yang mulai lapuk, atapnya bocor di beberapa bagian, dan lantainya selalu dingin meski matahari bersinar terang.
Mereka bukan orang jahat, tetapi juga bukan orang berada. Mereka hidup dari apa yang bisa mereka kerjakan hari demi hari. Sang suami bekerja serabutan, kadang membantu petani, kadang mengangkat barang, kadang berburu hewan kecil di hutan. Sang istri mengurus rumah dan menjahit pakaian orang lain untuk mendapatkan sedikit upah.
Meski miskin, mereka saling menyayangi. Mereka telah lama menikah, namun bertahun-tahun tidak dikaruniai anak. Karena itulah, ketika akhirnya sang istri mengandung, kebahagiaan yang mereka rasakan begitu besar hingga hampir terasa menyakitkan.
Setiap pagi, sang istri meletakkan tangannya di perutnya yang mulai membesar, seolah ingin memastikan bahwa kehidupan kecil di dalamnya benar-benar ada. Setiap malam, sang suami berdoa dengan sungguh-sungguh agar anak itu lahir dengan selamat.
Namun kebahagiaan itu perlahan berubah menjadi kekhawatiran. Kehamilan sang istri tidak berjalan mudah. Tubuhnya melemah dari hari ke hari. Wajahnya pucat, matanya cekung, dan nafsu makannya hampir hilang. Ia sering terbaring lama di tempat tidur, menatap langit-langit rumah dengan napas pendek dan berat.
Suatu hari, saat ia berdiri di dekat jendela kecil di belakang rumah, pandangannya tertuju pada sesuatu yang mengubah segalanya.
Di balik rumah mereka, terbentang sebuah kebun luas yang tampak berbeda dari kebun mana pun yang pernah ia lihat. Tanaman-tanamannya tumbuh subur, hijau pekat, seolah tak pernah disentuh musim kering. Bunga-bunga berwarna cerah bermekaran tanpa layu. Udara di sekitar kebun itu selalu tampak tenang, bahkan angin pun seolah enggan berhembus terlalu kencang di sana.
Kebun itu terkenal di seluruh daerah. Semua orang tahu siapa pemiliknya. Seorang perempuan tua—seorang penyihir. Tak ada yang tahu dari mana ia berasal. Tak ada yang tahu berapa umurnya. Yang orang-orang tahu hanyalah satu hal: tak seorang pun boleh memasuki kebunnya. Mereka yang berani melanggar akan menyesal seumur hidup, jika masih hidup.
Sang istri berdiri lama di jendela itu, menatap ke arah kebun terlarang. Di antara semua tanaman yang tumbuh subur, matanya tertuju pada satu jenis tanaman yang daunnya hijau segar dan berkilau diterpa cahaya matahari. Tanaman itu disebut Rapunzel.
Ia tak tahu mengapa, tetapi sejak saat itu, pikirannya hanya dipenuhi satu keinginan: memakan rapunzel itu. Awalnya, keinginan itu hanya seperti bisikan kecil. Namun hari demi hari, bisikan itu berubah menjadi desakan yang kuat. Tubuhnya semakin lemah, wajahnya semakin pucat, dan matanya semakin sering menatap kebun itu dengan kerinduan yang aneh.
Akhirnya, ia berkata kepada suaminya dengan suara hampir tak terdengar,
“Jika aku tidak memakan rapunzel itu, aku akan mati.”
Sang suami terkejut. Ia mencoba menenangkan istrinya, berkata bahwa itu hanya keinginan sementara. Ia berjanji akan mencari makanan lain yang lebih bergizi. Namun keesokan harinya, kondisi istrinya semakin memburuk.
Ia menolak semua makanan kecuali satu.
“Aku bisa merasakannya,” kata sang istri dengan napas terengah. “Tubuhku membutuhkannya. Jika aku tidak mendapatkannya, aku tidak akan bertahan.”
Sang suami gelisah. Ia tahu benar bahaya kebun itu. Namun ia juga melihat dengan jelas bahwa istrinya benar-benar berada di ambang kematian. Cinta dan ketakutan bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
Malam itu, saat bulan tertutup awan dan jalanan sepi, sang suami mengambil keputusan yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Ia memanjat pagar kebun penyihir. Tangannya gemetar saat menyentuh tanah di dalam kebun. Udara di sana terasa berbeda—lebih dingin, lebih berat. Ia bergerak cepat, mencabut beberapa batang rapunzel, lalu segera melompat keluar dan berlari pulang tanpa menoleh ke belakang.
Istrinya memakan rapunzel itu dengan lahap. Warna wajahnya sedikit membaik, dan senyum tipis muncul di bibirnya. Sang suami merasa lega, yakin bahwa keputusannya benar. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama.
Keesokan harinya, sang istri berkata dengan suara yang lebih kuat namun penuh desakan,
“Aku membutuhkan rapunzel itu lagi. Rasanya belum cukup.”
Sang suami mencoba menolak. Ia memperingatkan bahaya yang mengintai. Namun sang istri menangis, dan tubuhnya kembali melemah. Keinginannya bukan lagi sekadar selera, itu telah menjadi kebutuhan yang menguasai seluruh pikirannya.
Dengan hati yang semakin berat, sang suami kembali ke kebun pada malam berikutnya. Namun kali ini, takdir tidak berpihak padanya. Saat ia baru saja mencabut tanaman itu, sebuah suara keras menggema di kegelapan.
“Berani sekali kau!”
Sang suami membeku. Dari balik bayangan, muncul sosok perempuan tua dengan mata tajam dan tatapan yang menembus jiwa. Ia jatuh berlutut, memohon ampun, dan menceritakan segalanya tentang istrinya, tentang anak yang belum lahir, tentang ketakutannya kehilangan mereka.
Penyihir itu mendengarkan dengan tenang. Wajahnya tak menunjukkan amarah, tetapi juga tidak belas kasihan.
Akhirnya, ia berkata dengan suara dingin,
“Aku akan membiarkanmu mengambil rapunzel sepuasnya. Tapi sebagai gantinya, anak yang akan lahir itu menjadi milikku.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu berat di dada sang suami. Namun ia tidak melihat jalan lain. Dengan suara hampir tak terdengar, ia menyetujui perjanjian itu. Ia pulang membawa rapunzel, tetapi hatinya kini dipenuhi rasa bersalah yang tak terucapkan.
Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Kulitnya cerah, matanya jernih, dan tangis pertamanya terdengar kuat dan hidup. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Penyihir datang pada hari itu juga.
Tanpa perlawanan, tanpa upacara, tanpa air mata yang mampu mengubah apa pun, bayi itu diambil dari pelukan ibunya.
Penyihir itu berkata,“Namanya Rapunzel.”
Dan dengan itu, takdir sang anak pun ditentukan.


Komentar
Posting Komentar