"Si Kerudung Merah" Bagian 2 : Serigala Yang Berbicara Manis
Cerita ini adalah pengembagan dari cerita Grimm bersaudara.
Hutan tidak pernah benar-benar diam. Bahkan ketika tidak ada burung bernyanyi atau angin bertiup, selalu ada sesuatu yang bergerak. Entah itu daun yang jatuh, ranting yang patah, atau makhluk yang melangkah tanpa suara.
Si Kerudung Merah tidak menyadari hal itu ketika ia membungkuk memetik bunga. Matanya tertuju pada kelopak-kelopak berwarna cerah yang tumbuh liar di antara semak. Ia memilih yang paling indah, membayangkan wajah neneknya yang akan tersenyum bahagia saat menerima bunga-bunga itu.
Ia lupa satu hal penting, ia tidak lagi berada di jalan setapak.
Sementara itu, serigala berlari cepat di antara pepohonan. Tubuhnya ramping dan kuat, terbiasa dengan hutan. Ia tahu jalan-jalan kecil yang tidak pernah dilewati manusia, tahu di mana tanah lunak dan di mana akar-akar besar bisa menjadi pijakan.
Di kepalanya, rencana itu tersusun rapi. Ia tidak terburu-buru. Serigala yang cerdik tahu bahwa kesabaran sering kali lebih mematikan daripada taring.
Ketika Si Kerudung Merah akhirnya menyadari bahwa ia telah terlalu lama memetik bunga, matahari sudah bergeser lebih tinggi. Cahaya yang tadinya lembut kini terasa lebih tajam, dan bayangan pohon memanjang ke arah yang aneh.
“Aku harus segera melanjutkan perjalanan,” gumamnya.
Ia melangkah kembali menuju jalan setapak, tanpa tahu bahwa keterlambatan kecil itu telah memberi serigala waktu yang cukup untuk bertindak.
Di kejauhan, rumah nenek berdiri sendirian. Rumah kayu kecil itu tampak rapuh, dikelilingi pagar rendah yang sudah mulai miring. Asap tipis keluar dari cerobong, tanda bahwa nenek masih hidup, masih bernapas, meski tubuhnya lemah karena sakit.
Serigala tiba lebih dulu. Ia berdiri sejenak di depan pintu, mengatur napas, lalu mengubah suaranya menjadi lebih tinggi, lebih lembut, meniru nada polos seorang anak.
“Nenek,” panggilnya, “ini aku. Aku membawa makanan.”
Dari dalam rumah terdengar suara batuk lemah.
“Masuklah, pintunya tidak terkunci,” jawab nenek tanpa curiga.
Pintu terbuka dan apa yang terjadi setelahnya adalah keheningan. Serigala tidak meninggalkan apa pun selain rumah yang kini sunyi.
Ia mengenakan pakaian nenek, topi tidur, kacamata, dan selimut, lalu berbaring di tempat tidur, menunggu.
Sementara itu, Si Kerudung Merah berjalan semakin dalam ke hutan. Ia tidak merasa takut, tetapi ada rasa aneh yang sulit ia jelaskan, seperti perasaan ketika seseorang memanggil namanya dari jauh, tetapi ia tidak tahu dari arah mana suara itu datang.
Ketika akhirnya ia sampai di rumah nenek, ia berhenti di depan pintu.
“Nenek?” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi, lalu masuk. Rumah itu terasa berbeda. Udara lebih pengap, lebih sunyi. Tirai jendela tertutup rapat, membuat ruangan tampak lebih gelap dari biasanya.
“Nenek, aku datang,” katanya sambil mendekat ke tempat tidur.
Sosok di atas tempat tidur itu mengangguk pelan.
Si Kerudung Merah mendekat, namun alisnya berkerut. Ada sesuatu yang tidak biasa.
“Nenek,” katanya ragu, “kenapa suaramu terdengar berbeda?”
“Aku sedang sakit,” jawab serigala dengan suara ditahan.
Si Kerudung Merah melangkah lebih dekat.
“Nenek,” lanjutnya, “kenapa telingamu besar sekali?”
“Agar aku bisa mendengarmu lebih baik.”
Ia semakin mendekat.
“Nenek, kenapa matamu besar sekali?”
“Agar aku bisa melihatmu lebih jelas.”
Detak jantung Si Kerudung Merah mulai terasa lebih cepat. Ia belum tahu mengapa, tetapi nalurinya mulai berbisik—terlambat, namun masih berusaha.
“Nenek,” bisiknya, “kenapa tanganmu besar sekali?”
“Agar aku bisa memelukmu erat.”
Dan akhirnya, dengan suara hampir tak terdengar:
“Nenek… kenapa gigimu besar sekali?”
Serigala tersenyum lebar.
“Agar aku bisa memakanmu.”
Dalam sekejap, serigala melompat dari tempat tidur.
Tidak ada teriakan panjang. Hanya keheningan yang kembali menyelimuti rumah kecil di tengah hutan itu. Serigala kini kenyang. Ia berbaring kembali, tertidur lelap, perutnya membesar, napasnya berat.
Hutan kembali diam. Namun di balik keheningan itu, takdir belum selesai bekerja.


Komentar
Posting Komentar