"Si Kerudung Merah" Bagian 1 : Gadis Dengan Kerudung Merah
Cerita ini adalah pengembagan dari cerita Grimm Bersaudara
Di sebuah desa kecil yang terletak di pinggir hutan tua, hiduplah seorang gadis kecil yang dikenal oleh semua orang karena satu hal, yaitu kerudung merahnya. Kerudung itu bukan sekadar pakaian, melainkan bagian dari dirinya karena kerudung itu adalah hadiah dari neneknya yang sangat ia cintai. Sejak hari pertama ia mengenakannya, gadis itu hampir tidak pernah melepasnya, bahkan ketika tidur atau bermain di halaman rumah.
Desa itu tidak besar. Rumah-rumah kayu berdiri berjejer dengan jarak yang tidak terlalu jauh satu sama lain. Di pagi hari, asap tipis dari tungku dapur mengepul ke udara, bercampur dengan aroma roti hangat dan kayu terbakar. Ayam-ayam berkeliaran di halaman, dan anak-anak sering berlarian di jalan tanah yang membelah desa.
Namun, meskipun desa itu hangat dan akrab, semua orang tahu bahwa hutan di sebelah timur desa bukanlah tempat bermain. Hutan itu lebih tua dari siapa pun yang tinggal di desa. Pohon-pohonnya tinggi menjulang, batangnya tebal dan berlumut, seakan menyimpan rahasia yang telah terkubur selama ratusan tahun. Cahaya matahari sulit menembus dedaunan rapat, dan ketika angin bertiup, suara gesekan ranting sering terdengar seperti bisikan.
Ibu Si Kerudung Merah sering berkata,
“Hutan itu tidak jahat, tapi juga tidak ramah. Ia hanya diam, dan di dalam diamnya, bahaya bisa bersembunyi.”
Sayangnya, bagi seorang anak kecil, kata-kata seperti itu terdengar lebih seperti cerita pengantar tidur daripada peringatan nyata.
Si Kerudung Merah adalah anak yang baik. Ia patuh, rajin membantu ibunya, dan selalu menyapa orang-orang desa dengan senyum cerah. Namun, seperti kebanyakan anak seusianya, ia memiliki satu kelemahan besar yaitu ia terlalu percaya pada dunia.
Baginya, semua orang adalah teman. Semua senyum berarti kebaikan. Dan semua kata yang terdengar lembut pasti jujur.
Suatu pagi yang cerah, ketika embun masih menempel di ujung rumput, ibunya memanggilnya ke dapur. Di atas meja kayu sudah tersusun sekeranjang kecil berisi roti segar dan sebotol kecil anggur.
“Ibu,” tanya Si Kerudung Merah sambil mendekat, “untuk siapa itu?”
Ibunya menatapnya dengan lembut namun serius.
“Itu untuk nenekmu. Ia sedang sakit dan membutuhkan makanan ini agar cepat pulih.”
Si Kerudung Merah mengangguk penuh semangat. Ia sangat menyayangi neneknya, perempuan tua yang selalu menceritakan kisah-kisah aneh tentang masa lalu, tentang dunia sebelum desa itu berdiri.
“Tapi ingat,” lanjut ibunya sambil berjongkok agar sejajar dengan mata anaknya, “jangan keluar dari jalan setapak. Jangan berhenti terlalu lama dan jangan berbicara dengan orang asing.”
“Iya, Bu,” jawab Si Kerudung Merah cepat, tanpa benar-benar memahami mengapa larangan itu penting.
Ia mengenakan kerudung merahnya, mengambil keranjang, dan melangkah keluar rumah dengan hati riang. Ia melambaikan tangan kepada ibunya, lalu berjalan menuju hutan.
Pada awalnya, jalan setapak itu lebar dan jelas. Tanahnya padat, bekas tapak kaki para penduduk desa yang sering melewatinya. Burung-burung bernyanyi di dahan, dan cahaya matahari menari di antara daun.
Namun semakin jauh ia melangkah, hutan mulai berubah. Pohon-pohon semakin rapat. Udara menjadi lebih sejuk dan lembap. Suara desa perlahan menghilang, digantikan oleh bunyi dedaunan, ranting patah, dan sesuatu yang bergerak di kejauhan—entah apa.
Si Kerudung Merah berjalan sambil bersenandung, mencoba mengusir rasa asing yang mulai menyelinap ke hatinya. Ia tidak tahu bahwa sejak ia memasuki hutan, sepasang mata telah mengawasinya.
Di balik semak-semak gelap, seekor serigala berdiri diam. Bulunya kelabu gelap, matanya tajam dan cerdas. Ia bukan sekadar binatang liar yang lapar, ia adalah makhluk yang terbiasa membaca kelemahan.
Serigala itu tidak langsung bergerak. Ia mengamati cara gadis kecil itu berjalan, cara ia melihat sekeliling tanpa rasa takut, dan cara ia tersenyum pada dunia yang seharusnya tidak sepenuhnya dipercaya.
“Anak kecil,” pikirnya, “dan sendirian.”
Ia menunggu saat yang tepat.
Ketika Si Kerudung Merah melewati sebuah belokan kecil di jalan setapak, serigala itu akhirnya melangkah keluar dari bayangan pohon. Ia berdiri di depan gadis itu, tidak mengaum, tidak memperlihatkan taringnya. Ia justru tersenyum—jika seekor serigala bisa disebut tersenyum.
“Halo, gadis kecil,” katanya dengan suara halus.
Si Kerudung Merah berhenti. Ia terkejut, namun tidak takut. Ia belum pernah diajari bahwa suara lembut bisa lebih berbahaya daripada suara keras.
“Halo,” jawabnya sopan.
“Ke mana kau pergi pagi-pagi begini?” tanya serigala itu.
Tanpa ragu, Si Kerudung Merah menjawab,
“Aku mau mengantar makanan untuk nenekku yang sakit. Rumahnya ada di tengah hutan.”
Serigala itu menunduk sedikit, berpura-pura iba.
“Oh, betapa baiknya kau. Nenekmu pasti sangat menyayangimu.”
Gadis kecil itu tersenyum bangga.
Serigala melirik keranjang di tangannya, lalu menatap bunga-bunga liar yang tumbuh tak jauh dari jalan.
“Mengapa kau tidak memetik beberapa bunga untuk nenekmu? Ia pasti senang.”
Si Kerudung Merah ragu sejenak. Ia teringat pesan ibunya. Namun bunga-bunga itu tampak indah, dan suara serigala terdengar begitu ramah.
“Hanya sebentar,” pikirnya.
Ia melangkah keluar dari jalan setapak.
Dan pada saat itulah, tanpa ia sadari, langkah pertamanya menuju bahaya telah diambil.
Serigala itu tersenyum tipis dan perlahan berbalik arah, berlari cepat menuju rumah nenek, meninggalkan gadis kecil itu bersama bunga-bunga dan kesalahannya yang pertama.
Hutan kembali sunyi. Namun kini, sunyi itu mengandung niat.


Komentar
Posting Komentar