"Rapunzel" Bagian 3 : Suara Yang Didengar Dunia

 Cerita ini dikembangkan dari cerita asli Grimm bersaudara.


Hutan di sekitar menara itu jarang didatangi manusia. Pohon-pohonnya tumbuh rapat, akar-akar besar menjalar di tanah, dan cahaya matahari hanya turun sebagai garis-garis tipis di antara dedaunan. Burung-burung pun jarang bernyanyi lama, seolah tempat itu memang diciptakan untuk kesunyian.

Setiap hari, pada jam-jam tertentu, sebuah suara lembut mengalun dari puncak menara. Suara itu bening dan jernih, seperti air yang mengalir di antara batu-batu halus. Ia bukan sekadar nyanyian tanpa makna, melainkan ungkapan hati yang lama terkurung.

Itulah suara Rapunzel. Ia bernyanyi bukan untuk siapa pun. Ia bernyanyi untuk mengisi waktu, untuk menenangkan pikirannya, dan untuk mengusir rasa sepi yang sering datang tanpa peringatan. Ia tidak tahu bahwa suaranya melayang jauh melampaui menara, menembus pepohonan, dan akhirnya sampai ke telinga seseorang yang tak pernah ia bayangkan.

Suatu hari, seorang pangeran muda sedang menunggang kudanya melewati hutan itu. Ia sedang berburu, namun lebih karena kebiasaan daripada keinginan. Hatinya sedang gelisah, pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang hidup dan tanggung jawab yang menantinya.

Tiba-tiba, pangeran menghentikan kudanya. Ia mendengar suara itu. Ia turun dari kuda dan berdiri diam, takut bergerak, takut suara itu menghilang jika ia bernapas terlalu keras. Ia belum pernah mendengar nyanyian seperti itu sebelumnya—begitu murni, begitu penuh kerinduan.

Ia mengikuti suara itu dengan langkah pelan, hingga akhirnya ia melihat menara tinggi yang berdiri sendirian di tengah hutan.

“Siapa yang tinggal di sana?” gumamnya.

Ia memanggil, tetapi tak ada jawaban. Ia mencari pintu, namun tak menemukannya. Menara itu tampak mustahil untuk dimasuki.

Hari itu, ia pulang dengan rasa penasaran yang belum terjawab. Namun keesokan harinya, ia kembali, dan hari berikutnya.

Ia datang diam-diam, bersembunyi di balik pepohonan, hingga suatu sore ia melihat sesuatu yang luar biasa.



Seorang perempuan tua mendekati menara dan berseru dengan suara keras:
“Rapunzel, Rapunzel, turunkan rambutmu!”

Tak lama kemudian, dari jendela kecil di puncak menara, rambut emas panjang diturunkan, berkilau diterpa cahaya matahari. Penyihir itu memanjat rambut tersebut dengan mudah, seolah itu adalah tangga biasa.

Pangeran itu terperangah. Ia kini tahu rahasia menara itu.

Malam hari, ketika hutan kembali sunyi dan penyihir tak terlihat, pangeran itu berdiri di bawah menara. Dengan suara sedikit gemetar, ia meniru kata-kata yang ia dengar sebelumnya.

“Rapunzel, Rapunzel, turunkan rambutmu.”

Beberapa detik berlalu. Rapunzel terkejut mendengar suara asing memanggilnya. Ia ragu, takut, namun rasa penasarannya lebih kuat. Ia menurunkan rambutnya perlahan.

Pangeran itu memanjat dengan susah payah. Saat ia sampai di jendela, Rapunzel mundur beberapa langkah, wajahnya pucat karena ketakutan. Ia belum pernah melihat orang maupun pria selain penyihir seumur hidupnya.

Namun pangeran itu tidak mendekat. Ia menundukkan kepala dan berkata dengan suara lembut bahwa ia tidak bermaksud menyakitinya. Ia hanya ingin mengetahui siapa pemilik suara indah yang telah mengisi hutan itu.

Perlahan, ketakutan Rapunzel mereda. Mereka mulai berbicara. Awalnya canggung, lalu semakin lama semakin hangat. Pangeran menceritakan dunia di luar menara—tentang kota, pasar, istana, dan orang-orang yang hidup bebas. Rapunzel mendengarkan dengan mata berbinar, hatinya bergetar oleh gambaran dunia yang selama ini hanya ia dengar dari lagu-lagunya sendiri.

Hari-hari berikutnya, pangeran datang kembali. Setiap pertemuan menjadi lebih berarti. Rapunzel mulai menantikan suaranya. Ia menyadari bahwa kesunyian yang dulu ia anggap biasa kini terasa jauh lebih berat tanpa kehadirannya.

Tanpa mereka sadari, cinta tumbuh di antara mereka. Pangeran itu akhirnya berkata bahwa ia ingin membawa Rapunzel pergi dari menara itu dan menjadikannya istrinya. Rapunzel, yang tak pernah mengenal dunia luar, merasakan kebahagiaan dan ketakutan sekaligus.

Namun ada satu hal yang tidak ia sadari.

Rapunzel, dengan kepolosannya, suatu hari berkata kepada penyihir,
“Mengapa engkau terasa jauh lebih berat saat memanjat rambutku dibandingkan pangeran yang datang berkunjung?”

Kata-kata itu jatuh seperti petir. Wajah penyihir mengeras. Matanya menyala dengan amarah yang dingin.

Rahasia itu telah terbongkar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANJING YANG TAMAK

Snow White : Kisah Asli Dan Akhir Bahagia (Versi Panjang) Part 1

Snow White : Warisan Dan Keturunan Snow White (Side Story) Part 5 End