"Si Kerudung Merah" Bagian 3 : Diselamatkan Pemburu
Cerita ini adalah pengembangan dari cerita Grimm bersaudara.
Hutan tidak bersuara setelah sore itu. Tidak ada burung. Tidak ada desir angin yang biasa menggerakkan dedaunan. Seolah-olah alam sendiri menahan napas, menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.
Rumah nenek berdiri seperti biasa, namun kini tidak lagi hidup. Di dalamnya, perabotan kayu tergeletak tak beraturan. Keranjang anyaman terbalik di lantai. Roti terguling dan anggur merembes membasahi papan kayu tua. Bunga-bunga liar yang dipetik Si Kerudung Merah berserakan tanpa makna.
Serigala itu tertidur. Ia tidak bermimpi. Ia hanya terbenam dalam rasa kenyang yang berat, tubuhnya terbaring malas di ranjang sempit milik nenek. Perutnya membuncit tidak wajar, bergerak perlahan setiap kali ia menarik napas panjang.
Di dalam kegelapan perut itu, Si Kerudung Merah masih hidup. Ia terkurung dalam ruang sempit, gelap, dan basah. Nafasnya terengah. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak menangis keras, hanya terisak kecil, karena ketakutan telah merampas suaranya.
Ia teringat ibunya. Ia teringat pesan tentang jalan setapak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengerti arti penyesalan.
Tak jauh dari rumah nenek, seorang pemburu melangkah perlahan menyusuri jalan hutan. Ia mengenal hutan itu dengan baik, bahkan lebih baik daripada kebanyakan penduduk desa. Ia tahu kapan hutan terasa “salah”.
Sore itu, ia merasa hutan terasa salah. Ia mendengar dengkuran berat yang tidak wajar. Bukan suara manusia tua, melainkan suara binatang besar yang terlalu lama kenyang. Nalurinya berkata: bahaya belum selesai.
Pemburu itu mendekati rumah dengan senapan di tangan. Saat ia membuka pintu, bau aneh menyambutnya, bau liar, amis, dan panas. Matanya langsung tertuju pada ranjang.
Serigala. Ia hampir menembak, namun sesuatu membuatnya berhenti. Perut binatang itu bergerak perlahan, teratur—seperti ada kehidupan di dalamnya.
Pemburu itu menelan ludah. Ia tidak ragu lagi. Dengan pisau besar, ia membelah perut serigala dengan hati-hati. Ia tidak mengayunkannya seperti membunuh binatang, melainkan seperti membuka sesuatu yang ingin diselamatkan.
Dan keajaiban terjadi. Nenek keluar lebih dulu, pucat, lemah, tetapi hidup. Lalu—Si Kerudung Merah. Gadis kecil itu jatuh ke lantai, tubuhnya menggigil hebat. Matanya kosong, wajahnya pucat seperti kain. Ia tidak langsung menangis. Trauma belum memberi ruang untuk air mata.
Mereka diselamatkan. Namun tidak ada sorak kegembiraan. Hanya keheningan berat. Pemburu mengisi perut serigala dengan batu, lalu menjahitnya kasar. Saat serigala terbangun dan mencoba melarikan diri, berat batu membuatnya roboh dan mati di lantai rumah nenek—tanpa suara heroik, tanpa kemegahan.
Hanya akibat dari perbuatannya sendiri. Si Kerudung Merah memandangi tubuh serigala itu lama sekali. Ia tidak merasa lega. Ia tidak merasa senang. Ia hanya merasa berubah.
Hutan akan tetap ada. Bahaya akan tetap mengintai. Namun gadis kecil itu tidak akan pernah sama lagi.


Komentar
Posting Komentar